Jumat, 19 Desember 2014

Konsep Fisika tentang Hukum Benda Jatuh

Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Dasar-Dasar MIPA
Konsep Fisika tentang Hukum Benda Jatuh
Disusun Oleh : Puji Lestari (F03112068)
Mahasiswi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak 2013

Hukum benda jatuh adalah sebuah hukum yang menjelaskan bahwa benda-benda akan jatuh pada kecepatan yang sama meskipun berat benda-benda tersebut berbeda. Hukum ini ditemukan oleh Galileo Galilei, seorang profesor matematika Universitas Pisa, Italia yang pada waktu itu berusia 24 tahun.
Sejarah ditemukan Hukum Benda Jatuh berawal ketika pada suatu hari di musim panas tahun 1598, Galileo Galilei tengah mengalami permasalahan yang membebani pikiran. Ia duduk di sebuah katedral lokal. Katedral ini selalu digantungkan lampu-lampu supaya terang.
Saat Galileo termenung, tanpa sengaja ia memperhatikan lampu-lampu penerang katedral yang di gantung dengan rantai berayun dengan lembut. Ia menyadari lampu-lampu tersebut berayun dengan kecepatan yang sama. Ia kemudian memutuskan untuk mengukur pergerakan lampu-lampu tersebut. Ia menggunakan denyut nadi di lehernya untuk menghitung periode setiap ayunan lampu. Kemudian ia juga menghitung lampu yang lebih besar dan dia menemukan bahwa ayunan mereka memilik kecepatan yang sama. Galileo meminjam salah satu tongkat panjang anak altar untuk mengubah cahaya lampu dan mengayunkan kedua lampu besar dan kecil lebih keras. Selama beberapa hari ia menghitung pergerakan lampu tersebut dan menemukan bahwa lampu-lampu itu bergerak pada waktu yang sama untuk menyelesaikan satu ayunan. Hal ini tidak dipengaruhi oleh ukuran atau berat lampu dan besar ayunan.
Penemuan tersebut sangat mengejutkan Galileo, karena berkontradiksi dengan kepercayaan dasar selama 2000 tahun, yaitu teori Yunani kuno dari Aristoteles dan Ptolemi dan memulai ilmu pengetahuan modern.
Sebelum masa Galileo, orang mempercayai pemikiran bahwa benda yang lebih berat jatuh lebih cepat dari benda yang lebih ringan, dan bahwa laju jatuh benda tersebut sebanding dengan berat benda itu. Galileo menemukan bahwa semua benda akan jatuh dengan percepatan konstan yang sama jika tidak ada udara atau hambatan lainnya. Ia menyatakan bahwa untuk sebuah benda yang jatuh dari keadaan diam, jarak yang ditempuh akan sebanding dengan kuadrat waktu, h   t. Untuk memperkuat penemuan bahwa laju benda yang jatuh bertambah ketika benda itu jatuh, Galileo menggunakan argumen yang cerdik. Sebuah batu berat yang dijatuhkan dari ketinggian 2 m akan memukul sebuah tiang pancang lebih dalam ke tanah dibandingkan dengan batu yang sama tetapi dijatuhkan dari ketinggian 0,2 m. Jelas, batu tersebut bergerak lebih cepat pada ketinggian yang pertama.
Galileo juga menegaskan bahwa semua benda, berat atau ringan jatuh dengan percepatan yang sama, jika tidak ada udara (hampa udara). Jika anda memegang selembar kertas secara horizontal pada satu tangan dan sebuah benda lain yang lebih berat, misalnya sebuah bola di tangan yang lain, dan melepaskan kertas dan bola tersebut pada saat yang sama, benda yang lebih berat akan lebih dulu mencapai tanah. Tetapi jika kita mengulang percobaan ini, dengan membentuk kertas menjadi gumpalan kecil kita akan melihat bahwa kedua benda tersebut mencapai lantai pada saat yang hampir sama. Secara sederhana, teori benda jatuh dapat dicontohkan seperti dibawah :

Sumber :

Konsep Fisika tentang Hukum Archimedes

Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Dasar-Dasar MIPA
Konsep Fisika tentang Hukum Archimedes
Disusun Oleh : Puji Lestari (F03112068)
Mahasiswi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak 2013

Hukum Archimedes adalah sebuah hukum mengenai prinsip pengapungan benda di atas benda cair. Hukum ini ditemukan oleh seorang ilmuan yang bernama Archimedes. Archimedes (287-212 SM) merupakan seorang astronom, fisikawan, matematikawan dan juga insinyur yang dilahirkan di Syracuse.
Sejarah ditemukan Hukum Archimedes berawal ketika pada tahun 245SM, Archimedes diperintahkan untuk menyelidiki mahkota emas oleh Raja Hieron II. Beliau ingin mencari tahu apakah ahli emas telah menipu. Beliau memberi sebongkah emas kepada ahli emas untuk dijadikan mahkota berbahan emas. Walaupun mahkota ini beratnya sama dengan emas asli, beliau curiga jika ahli emas telah melapisi emas asli tersebut dengan logam lain. Oleh karena itu, Archimedes diperintahkan untuk mencari tahu apakah mahkota ini murni emas tanpa harus merusak mahkota itu sendiri.
Archimedes memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh hingga merasa sangat letih. Di tengah keputusasaan, ia menceburan diri di dalam bak mandi umum yang berisi penuh air. Archimedes melihat dan memperhatikan lengannya terapung di atas air. Sebuah ide tiba-tiba muncul. Ia menarik tangan kedalam air dan merenggangkan lengannya. Lengan dengan sendiri mengapung kembali ke atas. Kemudian ia mencoba berdiri dari bak, level air menjadi menyusut, kemudian ia duduk kembali, level air meningkat kembali. Dia berbaring, air naik lebih tinggi lagi, dan ia merasa lebih ringan. Ia berdiri, level air menurun dan dia merasa dirinya lebih berat. Air harusnya telah mendorong dia keatas sehingga dia merasa ringan.
Dia kemudian mengambil sebuah batu dan sebalok kayu yang memiliki ukuran sama ke dalam bak dan merendamkan mereka kedua-duanya. Batu tenggelam tetapi terasa ringan. Dia harus menekan kayu supaya tenggelam. Itu artinya air harus menekan ke atas dengan gaya yang relatif terhadap jumlah air yang tergantikan oleh ukuran objek daripada berat dari objek. Seberat apa objek itu dirasakan di air mempengaruhi kepadatan objek. Ini membuat Archimedes mengerti bagaimana memecahkan masalah raja. Dia kembali ke raja. Kuncinya adalah kepadatan. Jika mahkota ini terbuat dari logam bukan emas, dia dapat memiliki berat yang sama tetapi akan memiliki kepadatan yang berbeda sehingga akan menumpahkan jumlah air yang berbeda.
            Mahkota dan sebuah emas yang beratnya sama di masukkan ke sebuah mangkok berisi air. Mahkotanya ternyata menumpahkan air lebih banyak sehingga terbukti mahkota itu adalah palsu. Lebih penting, Archimedes kemudian menemukan prinsip pengapungan: Air menekan ke atas sebuah objek dengan gaya yang setara dengan jumlah air yang ditumpahkannya.
            Sewaktu kejadian di bak mandi itu, ketika dia menemukan konsep pelampungan dia langsung loncat dan berteriak "Eureka!" yang artinya "Saya menemukannya!". Ucapan "Eureka" ini kemudian menjadi begitu populer.

Sumber  :

Rabu, 03 Desember 2014

My Family is My Life

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh :)
Bismillahirrohmanirrohim. Ini adalah anggota keluarga SKYPAR.
Dengan kepala keluarga Bapak Sariyun, S.Pd. (paling depan yang ganteng) seorang Guru Agama Islam di SDN 41 Perumnas 4 Sungai Ambawang.
Sang Istri sekaligus Ibu yang luar biasa, Siti Khomsyatun (paling depan yang cantik), seorang Ibu rumah tangga.
Anak Pertama, Yuli Astuti, S.ST (yang di belakang, sebelah cowok lawar), seorang dosen kebidanan di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Anak kedua, saya sendiri Puji Lestari (yang di belakang paling tepi, senyum pepsoden), seorang mahasiswa FKIP Universitas Tanjungpura yang Insyaallah akan mendapat gelar S.Pd.Fis.
Anak ketiga, Ali Romadhoni (yang paling tinggi di belakang), seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura yang Insyaallah juga akan mendapat gelar SE.
Anak keempat, Restika Pamungkasih (yang di belakang pakai kerudung coklat tua), seorang siswi MTs Negeri 2 Pontianak.
Insyaallah menjadi keluarga SAKINAH, MAWADAH, WAROHMAH. AMIIN :)



Komik Bahan Ajar PIXTON

Bismillahirrohmanirrohim. Ini merupakan contoh komik bahan ajar fisika buatan saya yang dibuat dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh www.pixton.com. Kalian dapat menggunakan web itu untuk membuat berbagai macam komik sesuai dengan keinginan kalian masing-masing. Nah, untuk calon guru kayak anak FKIP, boleh nih singgah ke web ini :) Sangat di anjurkan..


SELAMAT MENCOBA !!

Sertifikat Internasional Pertamaku dari Intel Corporation :)